Minggu, 18 Januari 2009

santri ketemu kyai

Alkisah suatu sore seorang kyai datang beserta rombongan ke jogja, beliau mampir ke kampus UIN untuk sholat ashar, namun alangkah terkejutnya sang kyai ketika sampai di UIN tidak menemukan masjid, yang ada hanya gedung aula yg disulap menjadi tempat sholat. Malam harinya, sang kyai bertemu dengan mantan santri2nya yang ngangsu ilmu di jogja, ya sebagian besar di UIN. Sang kyai, setengah komplain setengah kritik, berkata :"masa UIN kok ga punya masjid itu kan aneh...", mendengar kritik tajam dari sang kyai tentang kampusnya, salah satu santri nyeletuk karena dalam pikirannya seolah-olah sang kyai menuduh bahwa dg tidak adanya masjid di UIN itu berarti mahasiswanya ga sholat- "yi...shalat kan ngga harus di masjid", mendengar jawaban yang agak-mungkin "panas", sang kyai berkata lagi sambil "nyuding-nyuding" santrinya "ada itu anak ushuludin setelah kuliah di ushuludin sudah ngga mau shalat" si santri dengan cepat mengacungkan telunjuk dan jari tengah "tanda piss" sambil ngomong " yi...saya syari'ah lho yi...asli syari'ah" mendengar jawaban itu santri2 lain tertawa karena mereka tahu pasti bahwa santri itu memang alumni fak.syari'ah dan notabene sang kyai juga alumni fak.syari'ah di almamater yang sama yaitu UIN/IAIN.
Sebenarnya jika kita menilik kritik tajam sang kyai, itu merupakan sebuah cambuk pengingat bagi santri2nya agar jangan sampai meninggalkan sholat, dan itu merupakan sebuah petuah bijak dari kyai untuk para santrinya. Tapi mudah-mudahan kritik tersebut bukan mengarah pada simbol pemikiran "formalisme keberagamaan". Amiiin
Salam ta'dzim buat al-mukarrom ustadz Abd. Hakam Mubarok, Lc.

Selasa, 13 Januari 2009

kita awali dari Jogja

Tulisan ini pernah saya posting di milis Alumni Karangasem, tapi tak ada satupun respon yang singgah. Karena itu saya ingin menuangkan kembali kegelisahan ini dengan tujuan agar teman-teman alumni yang lain (khususnya anak-anak Ulul Albab Jogja) berkenan memberikan sumbang pikirannya, mengingat Karangasem dan Alumninya adalah sesuatu yang integral dan tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang, keduanya memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dan terkait.

Seingat saya, Karangasem saat ini telah memasuki usianya yang ke 60 tahun (atau mungkin lebih). Usia yang sangat matang. Dengan usia yang setua itu telah banyak pula anak panah (alumni) yang dilahirkan dan melesat ke dalam ruang yang berbeda-beda. Ada yang sukses jadi pejabat, pengusaha, akademisi, sastrawan dan jurnalis, bahkan yang masih berkutat dengan bangku kuliahpun seabrek jumlahnya. Tapi sayang, ribuan alumni dengan berbagai potensi tersebut tidak terakomodir dengan baik.

Dibeberapa kota, terdapat organisasi alumni Karangasem; Ulul Albab di Jogja, Dzulfikr di Surabaya dan organisasi lainnya yang saat ini masih bisa eksis dan survive. Tapi peran organisasi tersebut hanya terbatas pada pemberdayaan secara internal, belum ada output yang bisa diberikan untuk perkembangan Karangasem. Hal ini disebabkan oleh lemahnya jaringan yang dibangun antara organisasi alumni dibeberapa daerah dengan Yayasan Pondok pesantren Karangasem. Namun demikian, itu bukan satu alasan untuk sembunyi dari kenyataan bahwa apatisme alumni terhadap pondoknya sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan.

Apakah ada yang salah dengan pola pendidikan di Karangasem?, ataukah kesalahan tersebut bermuara dari elemen yang paling fundamental; sistem dan birokrasi feodal yang mengakar dan berkembang ditengah-tengah penggede Yayasan? Atau siapakah yang salah dalam hal ini?. Tidak bijak kiranya bila kita menyalahkan satu pihak saja. Tapi akan sangat mengkhawatirkan sekali jika gejala ini terus berlangsung, maka Karangasem dari tahun ke tahun akan melahirkan alumni yang apatis, yang tidak pernah merasa peduli lagi dengan pondoknya.

Apatisme yang ditunjukkan oleh alumni paling tidak dapat memberikan nilai positif dan negatif bila dilihat dari perspektif manajemen organisasi kharismatik yang selama ini dikembangkan dikarangasem. Apatisme tersebut akan melanggengkan feodalisme kepemimpinan di Karangasem tapi disisi lain akan mengurangi nilai tawar Karangasem dalam persaingan di dunia pendidikan yang semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah santri yang mondok di Karangasem menurun drastis. Masyarakat Lamongan dan sekitarnya lebih memilih pondok Al-islah Sendang dan pondok Muhammadiyah babat yang diasuh oleh yai mukhlis sebagai pilihan. Atau masyarakat paciran lebih senang sekolah di Pondok Modern atau di sekolah Negeri. Tapi saya tidak akan terlalu jauh masuk dalam wilayah ini, karena itu perkara lain.

Saya yakin, keinginan para alumni untuk terlibat dan bermanfaat bagi perkembangan Karangasem dengan potensinya masing-masing masih ada dalam hati kecil teman-teman. Tapi bagaimana niat itu bisa tersalurkan?. Sebuah pertanyaan yang harus kita cari jawabannya bersama.

Sedikit saya memberi perbandingan, saat ini saya juga terlibat aktif dalam organisasi alumni salah satu sekolah Muhammadiyah dijogja, suasana berbeda sangat terasa sekali dengan keberadaan saya sebagai alumni Karangasem. Organisasi alumni dijogja ini mendapatkan legitimasi dan perhatian dari induk sekolah, relasi yang terbangun cukup baik, bahkan untuk persoalan internal sekolahpun Alumni banyak dilibatkan. Antara induk sekolah dan para Alumni sama-sama bersinergi. Dan Untuk skala Nasional, dibentuk pula Keluarga Alumni, ini dengan tujuan untuk mengakomodir kepentingan alumni yang banyak tersebar luas di beberapa daerah di Indonesia. Jelas kondisi yang kontras dengan keberadaan alumni Karangasem.

Berkaca dari pengalaman saya tersebut, saya yakin alumni karangasem mampu melakukan hal yang sama. Untuk membangun relasi antara Alumni dengan Yayasan pondok, kita membutuhkan media yang dapat menjadi penghubung antara Alumni dengan Yayasan pondok. Ini bertujuan Agar gagasan-gagasan yang dikembangkan alumni karangasem di luar dapat langsung ditransfer ke Karangasem dan tidak menjadi gagasan liar yang kemudian melahirkan polemik di kalangan alumni. Alumni karangasem terpusat di wilayah Jawa Timur, Karena sebagian besar pelajar dan santri karangasem berasal dari daerah Lamongan dan sekitarnya. Jadi saya rasa bukan sebuah hal sulit bila alumni yang tersebar diwilayah lamongan dan jatim tersebut diorganisir dengan tujuan jangka panjang lahirnya Keluarga Alumni Karangasem Paciran. Sesukar dan se kompleks apapun problematika ini, kita musti berbuat!
Selanjutnya, Sanggupkah Ulul Albab Jogja yang notabene adalah kumpulan orang-orang terdidik menjadi pelopor dalam memperjuangkan gagasan-gagasan konstruktifnya untuk perkembangan karangasem sehingga Ulul Albab dapat berperan lebih luas?
Wassalam
Ahmad Maftuhin - Jogjakarta

foto - foto






Welcome To Jogja...

Salam Ulul Albab.....

Untuk Mengawali post dalam blog ini, patut kiranya jika rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah ta'ala. yang telah memberikan pencerahan kepada kita semua.
wah rasanya semakin bergairah saja Ulul Albab jogja neh... silahkan teman-teman UA jika mau posting apa saja di blog ini.