"Perempuan Berkalung Sorban" benarkah menjadi kontroversi karena 'menggoyang' eksistensi dan otoritas Pesantren/Kyai sebagai symbol religiusitas?
Dunia perfilman Indonesia saat ini diramaikan oleh kontroversi film "Perempuan Berkalung Sorban" (PBS) karya sutradara Hanung Bramantyo, yang sebelumnya cukup 'dielukan' oleh masyarakat -khususnya muslim- karena telah sukses mendirect film "Ayat-Ayat Cinta" yang bergenre cinta bernuansa Islami.
Dalam film PBS -yang bersetting di Jombang 1985- mengkisahkan tokoh Annisa, putri seorang kyai, yang mencoba berontak dari kungkungan budaya patriarki yang ada di pesantren. Meski pada akhirnya ia tidak bisa menolak ketika sang ayah memaksanya menikah dengan Samsudin, anak Kyai- teman ayahnya- yang diwatakkan sebagai tokoh antagonis, gila seks, licik, dsb, sebuah karakter yang di'image'kan -dalam film ini- sangat bertentangan dengan image seorang anak Kyai yang semestinya. Tidak hanya itu, sistem pembelajaran di pesantren dalam film ini juga digambarkan sangat patriarki, dimana santri-santri dijejali ayat2/hadis2 misoginis dengan sistem pembelajaran yang doktriner dan anti kritik oleh sang Kyai. Selain itu, santri dilarang keras membaca buku-buku yang melenceng dari referensi utama pesantren, yaitu kitab-kitab kuning.
Kondisi tersebut coba dilawan oleh Annisa dengan cara-cara yang cukup berani dan terkesan ekstrem, seperti secara sembunyi-sembunyi Annisa menjejali santri dengan buku-buku yang 'haram' dikonsumsi santri seperti-digambarkan di film ini- buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, Annisa juga mencoba keluar dari belenggu rumah tangganya yang 'menyiksa' dengan cara meminta Khudori, sosok laki-laki yang dicintai oleh Annisa yang harus meninggalkan Annisa karena harus menuntut ilmu di Al-Azhar Mesir, yang ketika itu pulang dari mesir untuk menzinainya. Momen ketika Annisa berkata "zinai aku" kepada Khudori tepat ketika Samsudin dan beberapa santri datang dan menyaksikan Annisa sedang berdua dengan Khudori. Keadaan ini dijadikan alasan bagi Samsudin untuk mengalungkan sorban ke leher Annisa dan menyeretnya ke halaman lalu meminta santri dan masyarakat merajam (melempari batu) Annisa dan Khudori karena dianggap telah berzina.
Perlawanan atas tindakan rajam digambarkan, ketika sosok ibu Annisa, yang selama ini banyak diam dan tidak berani membantah suaminya-sang Kyai, dengan keras mengatakan "hanya orang-orang yang tidak punya dosa saja yang boleh melempar batu (merajam)" kalimat ini membuat santri dan masyarakat berhenti melakukan rajam. Peristiwa ini akhirnya membawa Annisa lepas dari belenggu perkawinannya dengan Samsudin dan ia pergi meninggalkan pesantren ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, seperti yang dicitakan sebelumnya, dan pada akhirnya menikah dengan Khudori, meski akhirnya Khudori meninggal. Setelah itu, Annisa digambarkan berjuang sendiri, secara sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan untuk merubah budaya patriarki dan sistem pembelajaran di pesantren, serta perlawanannya terhadap kedua kakak laki-lakinya yang meneruskan mengurus pesantren setelah ayahnya meninggal.
Film ini akhir-akhir ini menjadi kontroversi ketika sejumlah ulama pesantren dan MUI memboikot film ini, bahkan ketika pada acara debat di tvOne, Ridwan Saidi, sebagai tokoh yang kontra, sangat emosional menanggapi argumen Hanung, selaku sutradara, dan membodoh-bodohkan Hanung sebagai orang yang tidak mengerti film. Bagi saya, yang telah menonton film ini dan notabene pernah mengenyam pendidikan di pesantren, film ini sebenarnya cukup menarik dan ada sisi positifnya, khususnya terkait dengan masalah hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan dan rumah tangga. Saya tidak melihat upaya -apalagi dilakukan dengan sengaja- untuk melecehkan lembaga Pesantren dan sosok Kyai.
Dalam perspektif saya sebagai penonton, apa yang digambarkan dalam film tersebut memang tidak semuanya sesuai dengan realitas, banyak hal yang digambarkan secara berlebihan dari yang sebenarnya, namanya juga film 'sebuah realitas yang diciptakan'. Namun, kalau mau jujur ada beberapa hal dari film tersebut yang memang nyata terjadi di lingkungan pesantren, misalnya ajaran tentang ayat2/hadis2 misoginis, setidaknya ketika saya di pesantren saya diajarkan hadis yang menjelaskan 'kalau istri menolak ajakan suami bersebadan dan suami tidak ridlo atas penolakan tersebut, maka istri akan dikutuk oleh malaikat sepanjang malam', tanpa ada penjelasan yang seimbang akan makna hadis tersebut. Sementara realitas seorang Kyai menghalangi anak gadisnya untuk menuntut ilmu dan memaksa menikah dengan sesama anak Kyai juga masih banyak terjadi saat ini.
Sebagai alumni pesantren, saya tidak merasa film ini merusak atau melecehkan almamater dan Kyai saya, karena saya yakin almamater dan Kyai saya tidak seperti yang digambarkan, sehingga tidak mengharuskan saya marah atau kebakaran jenggot. Film ini sebenarnya, menurut saya, isu sentral yang ingin diangkat adalah masalah gender dan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam. Dan pesantren coba diangkat di sini sebagai setting karena pesantren merupakan simbolisasi religiusitas (Islam), yang dalam perjalanannya, tidak dapat dipungkiri cukup kental diwarnai oleh budaya patriarki.
Mengapa kemudian film ini menjadi kontroversi? benarkah karena film ini mencoba 'menggoyang' eksistensi pesantren dan terlebih otoritas Kyai ? tentunya ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh pembuat film ini, atau bahkan sudah terprediksi sebelumnya akan menimbulkan kontroversi. Karena sudah jamak terjadi film, novel, lagu atau karya seni lainnya, yang mencoba 'menggoyang' otoritas seseorang/lembaga atau bahkan keyakinan tertentu yang sudah di'image'kan dengan gambaran tertentu dalam masyarakat lalu menampilkannya dalam gambaran yang sedikit melenceng atau bahkan berlawanan, akan mendapat respon, gempuran serta kemarahan yang cukup keras, khususnya dari seseorang/lembaga yang di'image'kan. Ambil contoh lagu Slank yang berjudul 'Gosip Jalanan' yang mencoba 'menggoyang' otoritas lembaga DPR dan membuat merah telinga para anggota dewan meski pada akhirnya lagu itu terbukti benar dengan tertangkapnya al-Amin Nur Nasution. Karya yang hampir sama adalah novel dan film The da Vinci Code, yang mencoba 'menggoyang' keyakinan umat Kristiani akan sosok Yesus, salah satunya- yang digambarkan pernah menikah dengan Maria Magdalena, sehingga menimbulkan kemarahan Vatikan dan umat Kristiani, dan menyerukan untuk memboikot novel dan filmnya.
Lalu bagaimana dengan Perempuan Berkalung Sorban? sungguh ironis ketika masyarakat- khususnya MUI dan Ulama', begitu emosional dan mencecar film tersebut padahal hanya sebagai 'realitas yang diciptakan' ini, sementara ketika realitas sesungguhnya terjadi, dimana seorang pemimpin Pesantren besar bergelar Syaikh (sekali lagi simbol) menikahi gadis di bawah umur untuk dijadikan istri kedua, mereka diam tak berkomentar...
Selasa, 17 Februari 2009
Langganan:
Komentar (Atom)