Liburan maulid Nabi, Senin 9 Maret 2009 lalu betul-betul dimanfaatkan oleh Ulul Albab Jogja. Bagaimana tidak, ketika setiap hari kami disibukkan dengan aktivitas masing2, siang hari itu para awak Ulul Albab jogja berinisiatif untuk mengisi liburan ini dengan kumpul-kumpul. Sepintas kalau dikatakan acaranya “kumpul-kumpul” konotasinya acara ini gak berguna. Tapi terserah lah, mau disebut apa saja gak jadi masalah!.
Diawali ngumpul di alun-alun kidul sebagai transit pertama, para punggawa Ulul Albab begitu sabar menunggu teman yang lain. Seperti biasa, persoalan jam karet selalu saja menjadi tradisi. Acara yang sedianya di mulai pada pukul 07:00 pagi musti molor hingga jam 10:00. Dengan kesabaran dan semangat, mas muhsin (Yang nge-tua-hi UA saat ini) begitu setia menunggu satu per-satu kedatangan awak UA yang terpencar di berbagai sudut kota. Faktor inilah yang menjadi kendala mengapa kami susah sekali untuk bisa selalu on time dalam setiap kegiatan. Kondisi anggota UA kali ini jauh berbeda dengan zaman dulu, saat ini anggota UA lebih merata tersebar di berbagai kampus, mulai UGM, UNY, UIN, UII, UAD, UMY, STIKES Aisyiyah hingga BATAN. Ini berbeda dengan kondisi sekitar lima tahun yang lalu, dimana anggota UA didominasi oleh mahasiswa UIN (dulu masih IAIN) dan terlokalisir di daerah Sapen atau Timoho (Kampus UIN), sehingga untuk mengumpulkannya tidak ditemui banyak kendala. Namun demikian, meskipun banyak anggota UA tersebar diberbagai daerah sesuai dengan domisili kampusnya masing-masing, itu tidak menyurutkan semangat kami untuk berkumpul. Ya, siang itu kita punya agenda untuk jalan-jalan ke pantai Depok, pantai yang terletak di sebelah selatan jogja. Sesekali refreshing kan gak jadi soal, dari pada suntuk mikirin rutinitas yang kadang2 bikin kepala mumet…?.
Agar semangat kebersamaan itu tetap terjaga, kami memutuskan untuk berangkat bersama-sama dengan motor masing-masing. “Jam tujuh pagi musti kumpul di Alun-alun kidul untuk kemudian dilanjutkan keberangkatannya ke pantai depok !”; ujar rekan kami mas Muhsin yang Lurahnya UA itu. walhasil, karena kami harus saling tunggu, kami baru mulai berangkat pada jam 10 pagi (setengah siang). Saat itu Cuaca jogja sedang panas2nya! Tak Kurang selama satu jam, kami tiba di pantai Depok, pantai yang indah dan bersih, namun sayang teriknya matahari membuat kami tidak begitu nyaman menikmati panorama pantai ini. Setelah berembug dan berdialog sejenak, akhirnya kami memutuskan sebuah tempat untuk kita singgahi, sebuah rumah kecil di pinggiran pantai.
Siang itu kami mengawalinya dengan acara rujakan, bekal yang sudah kami siapkan dari kos2san. Dari sinilah awal obrolan ringan tentang UA dimulai.
“Kumpulan UA itu gak perlu serius2, ya gini aja, itu sudah cukup” seloroh mbak iyut yang notabene seniornya UA mencoba membuka obrolan sambil menyiapkan rujaknya. Memang ada yang berbeda dengan perkumpulan ini. Di awal pembentukannya, organisasi ini diformat bukan layaknya sebuah organisasi formal, yang diatur dalam AD/ART, yang program-programnya direncanakan di awal periode, yang di akhir periode harus menyelesaikan LPJ. Bukan, UA bukan organisasi yang demikian. Tujuan kami sederhana, organisasi ini hanya media untuk merajut kembali kebersamaan yang pernah kami rasakan selama di pondok, itu saja. Adapun kegiatan yang bersifat praktis itu hanya pendukung. Namun demikian, kami selalu berkomitmen untuk menjadikan organisasi ini sebagai mediator bagi anggota untuk dapat mengembangkan dan mengapresiasikan bakat – kreatifitsnya. Kalau sebagian dari kami menginginkan sesuatu yang lebih, itu bisa didapat dengan aktif di organisasi lain. Kami bisa kumpul bareng saja sudah merupakan kebahagiaan yang luar biasa, dimana itu tidak bisa kami lakukan setiap hari.
Kami bukan sekumpulan orang yang dibuai oleh romantisme sejarah. Kami hanya berpandangan bahwa kebersamaan yang pernah terajut selama nyantri itu perlu dilestarikan. Bukankah islam senantiasa mengajarkan agar selalu menjaga tali ukhuwah?. Persepsi yang menganggap bahwa UA tak ubahnya sekumpulan orang yang tak punya acara dan hanya buang-buang waktu adalah asumsi yang salah kaprah. Buktinya, walaupun tidak besar toh kami juga berprestasi. Kebersamaan ini bagi kami cukup mahal, jadi kami selalu mencoba agar kebersamaan ini juga tidak hanya berkutat dalam ruang kosong. Kami yakin, ada nilai lebih yang bisa kami tawarkan melalui kebersamaan ini.
Obrolan-obrolan ringan terus berlanjut, dan tak terasa rujakpun habis dilahap. Sebagian dari kami meluncur ke tempat pelelangan ikan dan beberapa kilogram ikan kami beli. Di pantai ini kami bisa membeli ikan segar pilihan, karena disini terdapat pelelangan ikan. Terdapat banyak pula warung-warung yang menyediakan jasa pembakaran ikan berikut menyediakan nasi dan lalapannya, jadi kami gak perlu susah-susah mengolah ikan yang sudah kami beli. sambil menunggu ikan kami matang, tawa canda mengisi kekosongan. Tak butuh waktu lama, ikan yang kami belipun telah masak dan siap kami santap. Ya, inilah acara inti kami; Makan ikan laut segar di pantai yang jarang kami rasakan.
Sejenak setelah acara santap ikan segar usai, tanpa dikomanda pak lurahnya UA membuka diskusi. Hmmm….jadi teringat masa-masa Muhadloroh dipondok. Pengalaman Muhadloroh yang di tempa dipondok itu begitu terasa besar sekali manfaatnya; budaya kritis, vokal dan tidak canggung untuk berbicara dalam forum adalah hasilnya. Dulu ketika dipondok, kita selalu menjadikan momen muhadloroh sebagai beban berat, lah piye jal, pendekatan militer begitu melekat yang secara psikologis betul-betul menekan! jadi ya terpaksa deh...! andai waktu itu kita bisa lari atau sembunyi, itu pasti kita lakukan. Tapi sayang kita tidak bisa sembunyi ataupun lari. Entah mengapa, ketika mencoba untuk mangkir dari muhadloroh selalu saja ada insiden yang membuat kita tidak berani bolos. Saya teringat ketika teman sekamar saya mencoba untuk bolos dengan alasan sakit mekipun keadaannya sehat2 saja, yang terjadi malah ia menggigil ketakutan dikamar karena seluruh handuk dan pakaian yang ter”centel” dikamar pada berjatuhan!.hi… entah kekuatan apa yang menggerakkan itu semua. banyak pula pengalaman ”mistis” terjadi dan itu membuat kami tidak berani bolos muhadloroh. Bahkan ketika sakitpun, saya bela-belain ikutan muhadloroh dari pada harus sendirian di kamar. He..he… ternyata pondok kita itu ngeri ya. Zaman dulu belum ada acara reality show “Uji Nyali”, coba kalau ada……?????
Seakan mengulang kenangan itu, Terjadilah muhadloroh dalam halaqoh yang sederhana di sebuah rumah pinggiran pantai. Di awali dengan Kuliah Iftitah oleh Pak Budianto, begitu kami memanggilnya karena beliau yang paling senior dalam perkumpulan ini, seorang bapak dengan satu anak laki-laki yang perawakannya mirip sekali dengannya. Pak budi ini meskipun telah berkeluarga tapi tetap saja semangat dan aktif di UA, pada acara ini seluruh keluarganya tak lupa di ikut sertakan. Oh ya, mohon do’anya, mudah-mudahan tidak terjadi halangan apapun, beberapa bulan lagi akan lahir pula anak kedua-nya yang saat ini tengah dikandung istrinya, semoga lancar2 saja dan kelak putranya menjadi anak yang Sholeh-Sholehah, Aminn….!. Poin penting yang disampaikan pak Budi adalah mengingatkan agar seluruh awak UA mampu menjaga nama baik pondok dan Ulul Albab dengan menjunjung tinggi akhlakul Karimah. Pesan singkat tapi syarat makna.
Saya jadi termenung. Apa yang disampaikan oleh teman kami tadi bukanlah tanggung jawab yang mudah, melainkan tanggung jawab yang begitu berat yang harus kami pikul. UA hanya sebuah organisasi kecil yang tumbuh di tengah hiruk pukuknya kota jogja. UA adalah sebuah entitas kecil yang di hadapkan dengan dahsyatnya peradaban modern yang siap menghegemoni dengan segala produk globalnya. Yah…! Kota jogja, kota yang penuh dengan dinamika sosial. Gaya hidup yang hedonis dan konsumtif, pola pergaulan yang bebas, trend dan mode yang begitu pesat perkembangannya, hiburan yang tak terbatas, kompleks. Kalau sebuah entitas kecil ini harus dihadapkan dengan problematika zaman yang sedemikian rupa, wah alangkah beratnya tanggung jawab itu. Begitu pikiran yang terbesit dalam permenungan saya.
“kalian punya tanggung jawab untuk membuktikan bahwa asumsi ”mereka” tentang UA dan Jogja adalah tidak benar!” Tunjukkan yang baik-baik dan Simpan rapat-rapat yang buruk!" begitu pak budi melanjutkan kultumnya. Kegelisahan tentang jogja berikut makhluk sosialnya begitu mendalam, sampai pada titik yang memprihatinkan. Tahun 2002 lalu jogja digemparkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iip Wijayanto. 99 persen lebih mahasiswa Jogja tidak lagi virgin. Sebuah hasil penelitian yang mengejutkan meskipun kita tidak tahu sejauh mana penelitian itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Tentunya ini sebuah preseden buruk, khususnya bagi Jogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Ini juga berimbas terhadap eksistensi UA sebagai komunitas yang tumbuh di jogja. Sejak saat itu tidak banyak Orang tua alumni yang berkenan merekomendasi anaknya untuk melanjutkan studinya ke jogja. Imbasnya UA mengalami krisis generasi! Buktinya acara inipun masih banyak didominasi oleh kaum-kaum sepuh. He…he…
Di saat pak budi masih menyampaikan kultumnya, saya berpikir; hmmm..…cerdas sekali bapak satu ini, dia berusaha memberikan umpan dan saya yakin selanjutnya pasti terjadi diskusi hangat. Tak pelak setelah pak budi menyampaikan kultum, bak gayung bersambut satu persatu jama’ah muhadoroh ini berebut urun rembug! ………(bersambung)
Diawali ngumpul di alun-alun kidul sebagai transit pertama, para punggawa Ulul Albab begitu sabar menunggu teman yang lain. Seperti biasa, persoalan jam karet selalu saja menjadi tradisi. Acara yang sedianya di mulai pada pukul 07:00 pagi musti molor hingga jam 10:00. Dengan kesabaran dan semangat, mas muhsin (Yang nge-tua-hi UA saat ini) begitu setia menunggu satu per-satu kedatangan awak UA yang terpencar di berbagai sudut kota. Faktor inilah yang menjadi kendala mengapa kami susah sekali untuk bisa selalu on time dalam setiap kegiatan. Kondisi anggota UA kali ini jauh berbeda dengan zaman dulu, saat ini anggota UA lebih merata tersebar di berbagai kampus, mulai UGM, UNY, UIN, UII, UAD, UMY, STIKES Aisyiyah hingga BATAN. Ini berbeda dengan kondisi sekitar lima tahun yang lalu, dimana anggota UA didominasi oleh mahasiswa UIN (dulu masih IAIN) dan terlokalisir di daerah Sapen atau Timoho (Kampus UIN), sehingga untuk mengumpulkannya tidak ditemui banyak kendala. Namun demikian, meskipun banyak anggota UA tersebar diberbagai daerah sesuai dengan domisili kampusnya masing-masing, itu tidak menyurutkan semangat kami untuk berkumpul. Ya, siang itu kita punya agenda untuk jalan-jalan ke pantai Depok, pantai yang terletak di sebelah selatan jogja. Sesekali refreshing kan gak jadi soal, dari pada suntuk mikirin rutinitas yang kadang2 bikin kepala mumet…?.
Agar semangat kebersamaan itu tetap terjaga, kami memutuskan untuk berangkat bersama-sama dengan motor masing-masing. “Jam tujuh pagi musti kumpul di Alun-alun kidul untuk kemudian dilanjutkan keberangkatannya ke pantai depok !”; ujar rekan kami mas Muhsin yang Lurahnya UA itu. walhasil, karena kami harus saling tunggu, kami baru mulai berangkat pada jam 10 pagi (setengah siang). Saat itu Cuaca jogja sedang panas2nya! Tak Kurang selama satu jam, kami tiba di pantai Depok, pantai yang indah dan bersih, namun sayang teriknya matahari membuat kami tidak begitu nyaman menikmati panorama pantai ini. Setelah berembug dan berdialog sejenak, akhirnya kami memutuskan sebuah tempat untuk kita singgahi, sebuah rumah kecil di pinggiran pantai.
Siang itu kami mengawalinya dengan acara rujakan, bekal yang sudah kami siapkan dari kos2san. Dari sinilah awal obrolan ringan tentang UA dimulai.
“Kumpulan UA itu gak perlu serius2, ya gini aja, itu sudah cukup” seloroh mbak iyut yang notabene seniornya UA mencoba membuka obrolan sambil menyiapkan rujaknya. Memang ada yang berbeda dengan perkumpulan ini. Di awal pembentukannya, organisasi ini diformat bukan layaknya sebuah organisasi formal, yang diatur dalam AD/ART, yang program-programnya direncanakan di awal periode, yang di akhir periode harus menyelesaikan LPJ. Bukan, UA bukan organisasi yang demikian. Tujuan kami sederhana, organisasi ini hanya media untuk merajut kembali kebersamaan yang pernah kami rasakan selama di pondok, itu saja. Adapun kegiatan yang bersifat praktis itu hanya pendukung. Namun demikian, kami selalu berkomitmen untuk menjadikan organisasi ini sebagai mediator bagi anggota untuk dapat mengembangkan dan mengapresiasikan bakat – kreatifitsnya. Kalau sebagian dari kami menginginkan sesuatu yang lebih, itu bisa didapat dengan aktif di organisasi lain. Kami bisa kumpul bareng saja sudah merupakan kebahagiaan yang luar biasa, dimana itu tidak bisa kami lakukan setiap hari.
Kami bukan sekumpulan orang yang dibuai oleh romantisme sejarah. Kami hanya berpandangan bahwa kebersamaan yang pernah terajut selama nyantri itu perlu dilestarikan. Bukankah islam senantiasa mengajarkan agar selalu menjaga tali ukhuwah?. Persepsi yang menganggap bahwa UA tak ubahnya sekumpulan orang yang tak punya acara dan hanya buang-buang waktu adalah asumsi yang salah kaprah. Buktinya, walaupun tidak besar toh kami juga berprestasi. Kebersamaan ini bagi kami cukup mahal, jadi kami selalu mencoba agar kebersamaan ini juga tidak hanya berkutat dalam ruang kosong. Kami yakin, ada nilai lebih yang bisa kami tawarkan melalui kebersamaan ini.
Obrolan-obrolan ringan terus berlanjut, dan tak terasa rujakpun habis dilahap. Sebagian dari kami meluncur ke tempat pelelangan ikan dan beberapa kilogram ikan kami beli. Di pantai ini kami bisa membeli ikan segar pilihan, karena disini terdapat pelelangan ikan. Terdapat banyak pula warung-warung yang menyediakan jasa pembakaran ikan berikut menyediakan nasi dan lalapannya, jadi kami gak perlu susah-susah mengolah ikan yang sudah kami beli. sambil menunggu ikan kami matang, tawa canda mengisi kekosongan. Tak butuh waktu lama, ikan yang kami belipun telah masak dan siap kami santap. Ya, inilah acara inti kami; Makan ikan laut segar di pantai yang jarang kami rasakan.
Sejenak setelah acara santap ikan segar usai, tanpa dikomanda pak lurahnya UA membuka diskusi. Hmmm….jadi teringat masa-masa Muhadloroh dipondok. Pengalaman Muhadloroh yang di tempa dipondok itu begitu terasa besar sekali manfaatnya; budaya kritis, vokal dan tidak canggung untuk berbicara dalam forum adalah hasilnya. Dulu ketika dipondok, kita selalu menjadikan momen muhadloroh sebagai beban berat, lah piye jal, pendekatan militer begitu melekat yang secara psikologis betul-betul menekan! jadi ya terpaksa deh...! andai waktu itu kita bisa lari atau sembunyi, itu pasti kita lakukan. Tapi sayang kita tidak bisa sembunyi ataupun lari. Entah mengapa, ketika mencoba untuk mangkir dari muhadloroh selalu saja ada insiden yang membuat kita tidak berani bolos. Saya teringat ketika teman sekamar saya mencoba untuk bolos dengan alasan sakit mekipun keadaannya sehat2 saja, yang terjadi malah ia menggigil ketakutan dikamar karena seluruh handuk dan pakaian yang ter”centel” dikamar pada berjatuhan!.hi… entah kekuatan apa yang menggerakkan itu semua. banyak pula pengalaman ”mistis” terjadi dan itu membuat kami tidak berani bolos muhadloroh. Bahkan ketika sakitpun, saya bela-belain ikutan muhadloroh dari pada harus sendirian di kamar. He..he… ternyata pondok kita itu ngeri ya. Zaman dulu belum ada acara reality show “Uji Nyali”, coba kalau ada……?????
Seakan mengulang kenangan itu, Terjadilah muhadloroh dalam halaqoh yang sederhana di sebuah rumah pinggiran pantai. Di awali dengan Kuliah Iftitah oleh Pak Budianto, begitu kami memanggilnya karena beliau yang paling senior dalam perkumpulan ini, seorang bapak dengan satu anak laki-laki yang perawakannya mirip sekali dengannya. Pak budi ini meskipun telah berkeluarga tapi tetap saja semangat dan aktif di UA, pada acara ini seluruh keluarganya tak lupa di ikut sertakan. Oh ya, mohon do’anya, mudah-mudahan tidak terjadi halangan apapun, beberapa bulan lagi akan lahir pula anak kedua-nya yang saat ini tengah dikandung istrinya, semoga lancar2 saja dan kelak putranya menjadi anak yang Sholeh-Sholehah, Aminn….!. Poin penting yang disampaikan pak Budi adalah mengingatkan agar seluruh awak UA mampu menjaga nama baik pondok dan Ulul Albab dengan menjunjung tinggi akhlakul Karimah. Pesan singkat tapi syarat makna.
Saya jadi termenung. Apa yang disampaikan oleh teman kami tadi bukanlah tanggung jawab yang mudah, melainkan tanggung jawab yang begitu berat yang harus kami pikul. UA hanya sebuah organisasi kecil yang tumbuh di tengah hiruk pukuknya kota jogja. UA adalah sebuah entitas kecil yang di hadapkan dengan dahsyatnya peradaban modern yang siap menghegemoni dengan segala produk globalnya. Yah…! Kota jogja, kota yang penuh dengan dinamika sosial. Gaya hidup yang hedonis dan konsumtif, pola pergaulan yang bebas, trend dan mode yang begitu pesat perkembangannya, hiburan yang tak terbatas, kompleks. Kalau sebuah entitas kecil ini harus dihadapkan dengan problematika zaman yang sedemikian rupa, wah alangkah beratnya tanggung jawab itu. Begitu pikiran yang terbesit dalam permenungan saya.
“kalian punya tanggung jawab untuk membuktikan bahwa asumsi ”mereka” tentang UA dan Jogja adalah tidak benar!” Tunjukkan yang baik-baik dan Simpan rapat-rapat yang buruk!" begitu pak budi melanjutkan kultumnya. Kegelisahan tentang jogja berikut makhluk sosialnya begitu mendalam, sampai pada titik yang memprihatinkan. Tahun 2002 lalu jogja digemparkan dengan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Iip Wijayanto. 99 persen lebih mahasiswa Jogja tidak lagi virgin. Sebuah hasil penelitian yang mengejutkan meskipun kita tidak tahu sejauh mana penelitian itu dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Tentunya ini sebuah preseden buruk, khususnya bagi Jogjakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Ini juga berimbas terhadap eksistensi UA sebagai komunitas yang tumbuh di jogja. Sejak saat itu tidak banyak Orang tua alumni yang berkenan merekomendasi anaknya untuk melanjutkan studinya ke jogja. Imbasnya UA mengalami krisis generasi! Buktinya acara inipun masih banyak didominasi oleh kaum-kaum sepuh. He…he…
Di saat pak budi masih menyampaikan kultumnya, saya berpikir; hmmm..…cerdas sekali bapak satu ini, dia berusaha memberikan umpan dan saya yakin selanjutnya pasti terjadi diskusi hangat. Tak pelak setelah pak budi menyampaikan kultum, bak gayung bersambut satu persatu jama’ah muhadoroh ini berebut urun rembug! ………(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar