Selasa, 17 Februari 2009

"Perempuan Berkalung Sorban" benarkah menjadi kontroversi karena 'menggoyang' eksistensi dan otoritas Pesantren/Kyai sebagai symbol religiusitas?

Dunia perfilman Indonesia saat ini diramaikan oleh kontroversi film "Perempuan Berkalung Sorban" (PBS) karya sutradara Hanung Bramantyo, yang sebelumnya cukup 'dielukan' oleh masyarakat -khususnya muslim- karena telah sukses mendirect film "Ayat-Ayat Cinta" yang bergenre cinta bernuansa Islami.

Dalam film PBS -yang bersetting di Jombang 1985- mengkisahkan tokoh Annisa, putri seorang kyai, yang mencoba berontak dari kungkungan budaya patriarki yang ada di pesantren. Meski pada akhirnya ia tidak bisa menolak ketika sang ayah memaksanya menikah dengan Samsudin, anak Kyai- teman ayahnya- yang diwatakkan sebagai tokoh antagonis, gila seks, licik, dsb, sebuah karakter yang di'image'kan -dalam film ini- sangat bertentangan dengan image seorang anak Kyai yang semestinya. Tidak hanya itu, sistem pembelajaran di pesantren dalam film ini juga digambarkan sangat patriarki, dimana santri-santri dijejali ayat2/hadis2 misoginis dengan sistem pembelajaran yang doktriner dan anti kritik oleh sang Kyai. Selain itu, santri dilarang keras membaca buku-buku yang melenceng dari referensi utama pesantren, yaitu kitab-kitab kuning.

Kondisi tersebut coba dilawan oleh Annisa dengan cara-cara yang cukup berani dan terkesan ekstrem, seperti secara sembunyi-sembunyi Annisa menjejali santri dengan buku-buku yang 'haram' dikonsumsi santri seperti-digambarkan di film ini- buku Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Selain itu, Annisa juga mencoba keluar dari belenggu rumah tangganya yang 'menyiksa' dengan cara meminta Khudori, sosok laki-laki yang dicintai oleh Annisa yang harus meninggalkan Annisa karena harus menuntut ilmu di Al-Azhar Mesir, yang ketika itu pulang dari mesir untuk menzinainya. Momen ketika Annisa berkata "zinai aku" kepada Khudori tepat ketika Samsudin dan beberapa santri datang dan menyaksikan Annisa sedang berdua dengan Khudori. Keadaan ini dijadikan alasan bagi Samsudin untuk mengalungkan sorban ke leher Annisa dan menyeretnya ke halaman lalu meminta santri dan masyarakat merajam (melempari batu) Annisa dan Khudori karena dianggap telah berzina.

Perlawanan atas tindakan rajam digambarkan, ketika sosok ibu Annisa, yang selama ini banyak diam dan tidak berani membantah suaminya-sang Kyai, dengan keras mengatakan "hanya orang-orang yang tidak punya dosa saja yang boleh melempar batu (merajam)" kalimat ini membuat santri dan masyarakat berhenti melakukan rajam. Peristiwa ini akhirnya membawa Annisa lepas dari belenggu perkawinannya dengan Samsudin dan ia pergi meninggalkan pesantren ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu, seperti yang dicitakan sebelumnya, dan pada akhirnya menikah dengan Khudori, meski akhirnya Khudori meninggal. Setelah itu, Annisa digambarkan berjuang sendiri, secara sembunyi-sembunyi dan pelan-pelan untuk merubah budaya patriarki dan sistem pembelajaran di pesantren, serta perlawanannya terhadap kedua kakak laki-lakinya yang meneruskan mengurus pesantren setelah ayahnya meninggal.

Film ini akhir-akhir ini menjadi kontroversi ketika sejumlah ulama pesantren dan MUI memboikot film ini, bahkan ketika pada acara debat di tvOne, Ridwan Saidi, sebagai tokoh yang kontra, sangat emosional menanggapi argumen Hanung, selaku sutradara, dan membodoh-bodohkan Hanung sebagai orang yang tidak mengerti film. Bagi saya, yang telah menonton film ini dan notabene pernah mengenyam pendidikan di pesantren, film ini sebenarnya cukup menarik dan ada sisi positifnya, khususnya terkait dengan masalah hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan dan rumah tangga. Saya tidak melihat upaya -apalagi dilakukan dengan sengaja- untuk melecehkan lembaga Pesantren dan sosok Kyai.

Dalam perspektif saya sebagai penonton, apa yang digambarkan dalam film tersebut memang tidak semuanya sesuai dengan realitas, banyak hal yang digambarkan secara berlebihan dari yang sebenarnya, namanya juga film 'sebuah realitas yang diciptakan'. Namun, kalau mau jujur ada beberapa hal dari film tersebut yang memang nyata terjadi di lingkungan pesantren, misalnya ajaran tentang ayat2/hadis2 misoginis, setidaknya ketika saya di pesantren saya diajarkan hadis yang menjelaskan 'kalau istri menolak ajakan suami bersebadan dan suami tidak ridlo atas penolakan tersebut, maka istri akan dikutuk oleh malaikat sepanjang malam', tanpa ada penjelasan yang seimbang akan makna hadis tersebut. Sementara realitas seorang Kyai menghalangi anak gadisnya untuk menuntut ilmu dan memaksa menikah dengan sesama anak Kyai juga masih banyak terjadi saat ini.

Sebagai alumni pesantren, saya tidak merasa film ini merusak atau melecehkan almamater dan Kyai saya, karena saya yakin almamater dan Kyai saya tidak seperti yang digambarkan, sehingga tidak mengharuskan saya marah atau kebakaran jenggot. Film ini sebenarnya, menurut saya, isu sentral yang ingin diangkat adalah masalah gender dan hak-hak perempuan dalam perspektif Islam. Dan pesantren coba diangkat di sini sebagai setting karena pesantren merupakan simbolisasi religiusitas (Islam), yang dalam perjalanannya, tidak dapat dipungkiri cukup kental diwarnai oleh budaya patriarki.

Mengapa kemudian film ini menjadi kontroversi? benarkah karena film ini mencoba 'menggoyang' eksistensi pesantren dan terlebih otoritas Kyai ? tentunya ini adalah resiko yang harus ditanggung oleh pembuat film ini, atau bahkan sudah terprediksi sebelumnya akan menimbulkan kontroversi. Karena sudah jamak terjadi film, novel, lagu atau karya seni lainnya, yang mencoba 'menggoyang' otoritas seseorang/lembaga atau bahkan keyakinan tertentu yang sudah di'image'kan dengan gambaran tertentu dalam masyarakat lalu menampilkannya dalam gambaran yang sedikit melenceng atau bahkan berlawanan, akan mendapat respon, gempuran serta kemarahan yang cukup keras, khususnya dari seseorang/lembaga yang di'image'kan. Ambil contoh lagu Slank yang berjudul 'Gosip Jalanan' yang mencoba 'menggoyang' otoritas lembaga DPR dan membuat merah telinga para anggota dewan meski pada akhirnya lagu itu terbukti benar dengan tertangkapnya al-Amin Nur Nasution. Karya yang hampir sama adalah novel dan film The da Vinci Code, yang mencoba 'menggoyang' keyakinan umat Kristiani akan sosok Yesus, salah satunya- yang digambarkan pernah menikah dengan Maria Magdalena, sehingga menimbulkan kemarahan Vatikan dan umat Kristiani, dan menyerukan untuk memboikot novel dan filmnya.

Lalu bagaimana dengan Perempuan Berkalung Sorban? sungguh ironis ketika masyarakat- khususnya MUI dan Ulama', begitu emosional dan mencecar film tersebut padahal hanya sebagai 'realitas yang diciptakan' ini, sementara ketika realitas sesungguhnya terjadi, dimana seorang pemimpin Pesantren besar bergelar Syaikh (sekali lagi simbol) menikahi gadis di bawah umur untuk dijadikan istri kedua, mereka diam tak berkomentar...

Minggu, 18 Januari 2009

santri ketemu kyai

Alkisah suatu sore seorang kyai datang beserta rombongan ke jogja, beliau mampir ke kampus UIN untuk sholat ashar, namun alangkah terkejutnya sang kyai ketika sampai di UIN tidak menemukan masjid, yang ada hanya gedung aula yg disulap menjadi tempat sholat. Malam harinya, sang kyai bertemu dengan mantan santri2nya yang ngangsu ilmu di jogja, ya sebagian besar di UIN. Sang kyai, setengah komplain setengah kritik, berkata :"masa UIN kok ga punya masjid itu kan aneh...", mendengar kritik tajam dari sang kyai tentang kampusnya, salah satu santri nyeletuk karena dalam pikirannya seolah-olah sang kyai menuduh bahwa dg tidak adanya masjid di UIN itu berarti mahasiswanya ga sholat- "yi...shalat kan ngga harus di masjid", mendengar jawaban yang agak-mungkin "panas", sang kyai berkata lagi sambil "nyuding-nyuding" santrinya "ada itu anak ushuludin setelah kuliah di ushuludin sudah ngga mau shalat" si santri dengan cepat mengacungkan telunjuk dan jari tengah "tanda piss" sambil ngomong " yi...saya syari'ah lho yi...asli syari'ah" mendengar jawaban itu santri2 lain tertawa karena mereka tahu pasti bahwa santri itu memang alumni fak.syari'ah dan notabene sang kyai juga alumni fak.syari'ah di almamater yang sama yaitu UIN/IAIN.
Sebenarnya jika kita menilik kritik tajam sang kyai, itu merupakan sebuah cambuk pengingat bagi santri2nya agar jangan sampai meninggalkan sholat, dan itu merupakan sebuah petuah bijak dari kyai untuk para santrinya. Tapi mudah-mudahan kritik tersebut bukan mengarah pada simbol pemikiran "formalisme keberagamaan". Amiiin
Salam ta'dzim buat al-mukarrom ustadz Abd. Hakam Mubarok, Lc.

Selasa, 13 Januari 2009

kita awali dari Jogja

Tulisan ini pernah saya posting di milis Alumni Karangasem, tapi tak ada satupun respon yang singgah. Karena itu saya ingin menuangkan kembali kegelisahan ini dengan tujuan agar teman-teman alumni yang lain (khususnya anak-anak Ulul Albab Jogja) berkenan memberikan sumbang pikirannya, mengingat Karangasem dan Alumninya adalah sesuatu yang integral dan tidak dapat dipisahkan, ibarat dua sisi mata uang, keduanya memiliki peran dan fungsi yang sangat penting dan terkait.

Seingat saya, Karangasem saat ini telah memasuki usianya yang ke 60 tahun (atau mungkin lebih). Usia yang sangat matang. Dengan usia yang setua itu telah banyak pula anak panah (alumni) yang dilahirkan dan melesat ke dalam ruang yang berbeda-beda. Ada yang sukses jadi pejabat, pengusaha, akademisi, sastrawan dan jurnalis, bahkan yang masih berkutat dengan bangku kuliahpun seabrek jumlahnya. Tapi sayang, ribuan alumni dengan berbagai potensi tersebut tidak terakomodir dengan baik.

Dibeberapa kota, terdapat organisasi alumni Karangasem; Ulul Albab di Jogja, Dzulfikr di Surabaya dan organisasi lainnya yang saat ini masih bisa eksis dan survive. Tapi peran organisasi tersebut hanya terbatas pada pemberdayaan secara internal, belum ada output yang bisa diberikan untuk perkembangan Karangasem. Hal ini disebabkan oleh lemahnya jaringan yang dibangun antara organisasi alumni dibeberapa daerah dengan Yayasan Pondok pesantren Karangasem. Namun demikian, itu bukan satu alasan untuk sembunyi dari kenyataan bahwa apatisme alumni terhadap pondoknya sudah sampai pada titik yang mengkhawatirkan.

Apakah ada yang salah dengan pola pendidikan di Karangasem?, ataukah kesalahan tersebut bermuara dari elemen yang paling fundamental; sistem dan birokrasi feodal yang mengakar dan berkembang ditengah-tengah penggede Yayasan? Atau siapakah yang salah dalam hal ini?. Tidak bijak kiranya bila kita menyalahkan satu pihak saja. Tapi akan sangat mengkhawatirkan sekali jika gejala ini terus berlangsung, maka Karangasem dari tahun ke tahun akan melahirkan alumni yang apatis, yang tidak pernah merasa peduli lagi dengan pondoknya.

Apatisme yang ditunjukkan oleh alumni paling tidak dapat memberikan nilai positif dan negatif bila dilihat dari perspektif manajemen organisasi kharismatik yang selama ini dikembangkan dikarangasem. Apatisme tersebut akan melanggengkan feodalisme kepemimpinan di Karangasem tapi disisi lain akan mengurangi nilai tawar Karangasem dalam persaingan di dunia pendidikan yang semakin ketat. Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah santri yang mondok di Karangasem menurun drastis. Masyarakat Lamongan dan sekitarnya lebih memilih pondok Al-islah Sendang dan pondok Muhammadiyah babat yang diasuh oleh yai mukhlis sebagai pilihan. Atau masyarakat paciran lebih senang sekolah di Pondok Modern atau di sekolah Negeri. Tapi saya tidak akan terlalu jauh masuk dalam wilayah ini, karena itu perkara lain.

Saya yakin, keinginan para alumni untuk terlibat dan bermanfaat bagi perkembangan Karangasem dengan potensinya masing-masing masih ada dalam hati kecil teman-teman. Tapi bagaimana niat itu bisa tersalurkan?. Sebuah pertanyaan yang harus kita cari jawabannya bersama.

Sedikit saya memberi perbandingan, saat ini saya juga terlibat aktif dalam organisasi alumni salah satu sekolah Muhammadiyah dijogja, suasana berbeda sangat terasa sekali dengan keberadaan saya sebagai alumni Karangasem. Organisasi alumni dijogja ini mendapatkan legitimasi dan perhatian dari induk sekolah, relasi yang terbangun cukup baik, bahkan untuk persoalan internal sekolahpun Alumni banyak dilibatkan. Antara induk sekolah dan para Alumni sama-sama bersinergi. Dan Untuk skala Nasional, dibentuk pula Keluarga Alumni, ini dengan tujuan untuk mengakomodir kepentingan alumni yang banyak tersebar luas di beberapa daerah di Indonesia. Jelas kondisi yang kontras dengan keberadaan alumni Karangasem.

Berkaca dari pengalaman saya tersebut, saya yakin alumni karangasem mampu melakukan hal yang sama. Untuk membangun relasi antara Alumni dengan Yayasan pondok, kita membutuhkan media yang dapat menjadi penghubung antara Alumni dengan Yayasan pondok. Ini bertujuan Agar gagasan-gagasan yang dikembangkan alumni karangasem di luar dapat langsung ditransfer ke Karangasem dan tidak menjadi gagasan liar yang kemudian melahirkan polemik di kalangan alumni. Alumni karangasem terpusat di wilayah Jawa Timur, Karena sebagian besar pelajar dan santri karangasem berasal dari daerah Lamongan dan sekitarnya. Jadi saya rasa bukan sebuah hal sulit bila alumni yang tersebar diwilayah lamongan dan jatim tersebut diorganisir dengan tujuan jangka panjang lahirnya Keluarga Alumni Karangasem Paciran. Sesukar dan se kompleks apapun problematika ini, kita musti berbuat!
Selanjutnya, Sanggupkah Ulul Albab Jogja yang notabene adalah kumpulan orang-orang terdidik menjadi pelopor dalam memperjuangkan gagasan-gagasan konstruktifnya untuk perkembangan karangasem sehingga Ulul Albab dapat berperan lebih luas?
Wassalam
Ahmad Maftuhin - Jogjakarta

foto - foto






Welcome To Jogja...

Salam Ulul Albab.....

Untuk Mengawali post dalam blog ini, patut kiranya jika rasa syukur kita panjatkan kehadirat Allah ta'ala. yang telah memberikan pencerahan kepada kita semua.
wah rasanya semakin bergairah saja Ulul Albab jogja neh... silahkan teman-teman UA jika mau posting apa saja di blog ini.